Senin, 19 Agustus 2013

Game Lara

Game Lara

My Cerpen

Pacar Pertama

SMAN 55 Jakarta, ya itulah tempatku untuk menuntut ilmu. Bergaul dengan teman-teman yang berbagai macam kepribadiannya. Hai, namaku Sasa, aku duduk di bangku kelas 1 SMA. Aku adalah anak muda yang belum pernah merasakan apa namanya itu ‘Cinta’, berbeda jauh dengan teman-temanku yang sudah bergandeng kemanapun dengan pasangan mereka masing-masing. Mungkin karena belum mendapatkan yang pas saja yaa.. yah, walaupun aku belum memiliki pacar tapi mempunyai seorang cowok idaman di sekolah. Orangnya ganteng, terkenal, keren, tinggi, putih, tapi.. sombong!  Tapi wajar aja sih dia sombong abisan dia kan ganteng, secara gitu udah hidup sempurna masa gak ‘Jaim’ dikit, hehe.. kan gengsi.
Nama cowok idamanku itu Mario, Mario adalah kakak kelasku yang paling terkenal di seputaran Jakarta, anak basket pula!! Jadi, siapa sih yang gak kenal sama cowok se-kece dia. Tapi, sayangnya kak Mario udah punya pacar yang super duper cantik. Mereka cocok kan, hahaha kasian banget akunya. Nama cewek kak Mario adalah kak Alexandra. Dia adalah ‘Queen’ di sekolahku, siapa sih yang gak kenal dia? Seantero sekolah juga udah kenal banget sama kepribadian kak Alexandra, yaitu suka “MENINDAS”. Yaah sikap kak Alexandra begitu karena dia tau bahwa pacarnya kan terkenal dan orang kaya pula, jadi dia merasa bahwa apa yang dilakukannya itu benar. Tapi aku belum pernah sih di tindas sama kak Alexandra, yang paling parah itu pernah temen kelasku, di kunciin di kamar mandi sepulang sekolah karena gak mau disuruh ke kantin beliin dia minuman. Ngenes banget ya! Tapi akhirnya karena kasian dan gak ada yang bantuin dia. Aku memberanikan diri untuk membukakan pintu kamar mandi tersebut, apapun resikonya aku gak peduli. Dan… apa yang kudapat keesokan harinya?
Bangkuku di siram saus sambal, di campu telur mentah, air got dan paling parah di campur LEM!! Tapi itu gak berhasil sih karena aku menukarnya dengan bangku lain, jadi saat istirahat bukannya dia tertawa puas malah marah-marah karena gak berhasil. Semua orang bangga sama aku, karena berani ngelawan kak Alexandra, tapi.. saat pulang sekolah..
“Heh! Loe yang namanya Sasa ya?” Tanya kak Alexandra dengan nada membentak. Sempat aku tersentak kaget, tapi aku memberanikan diri. Dan menjawab..
“Iya, aku yang namanya Sasa, kenapa ya kak?” tanyaku balik dengan polos.
“Pake nanya lagi loe! Loe udah berani ya ngelawan gue! Loe gak tau ya apa pura-pura gak tau kalau gue sama Mario yang berkuasa di sekolah ini, jadi semuanya harus tunduk sama kita berdua!! Denger loe?!” kata kak Alexandra.
“Gitu ya? Tapi kita semua kan bayar di sekolah ini, ya seharusnya tunduk sama peraturan sekolah bukan sama siswa/siswi yang sama-sama bayar uang sekolah disini.” Jawabku dengan nada datar.
Ekspresi wajah kak Alexandra sangat marah kepadaku, amarahnya menggebu-gebu dan mendidih seperti air yang sedang di rebus, hahaha. Aku tertawa dalam hati.
Dia menatapku tajam penuh dendam. Dan aku juga menatapnya dengan tajam.
Lalu tiba-tiba tangannya akan mendarat di pipi kanan ku. Saat aku memejamkan mata, tidak ada yang terjadi pada pipi kananku, saat aku membukanya perlahan, aku melihat sosok cowok ganteng yang lebih ganteng daripada kak Mario! Memegang tangan kak Alexandra untuk menahannya agar tidak memukulku. Aku bengong begitupun kak Alexandra. Wajahnya yang sangat amat ganteng, tinggi, putih, keren, tapiiii…. Dia siapa? Aku belum pernah melihat sebelumnya. Dan bukan murid dari sekolahku. Aku terus melihatnya dengan wajah kagum. Lalu dia mengeluarkan suara!
“Hey kamu jadi perempuan jangan kasar. Percuma sekolah kalau sikap kaya binatang.. sesama manusia kok main pukul? Gak pernah diajarin sopan santun ya sama orang tua?” kata cowok itu dengan nada cetus.
Aku tambah bengong dan kaget banget ini orang baik bener terus belain aku lagi, padahal belum kenal.
“Suka-suka gue! Emang loe siapa? Ikut campur urusan orang lebih kurang ajar daripada mukulin orang!” balas kak Alexandra.
“Percuma ngomong sama orang yang kelakuannya kaya binatang. Gak bisa mencerna pembicaraan orang lain.” Jawab cowok itu, lalu dia menarik tanganku.
Kak Alexandra sangat marah akan hal itu dan dia ngelaporin kejadian itu sama kak Mario.
Aku diam dengan muka agak takut dan malu karena kejadian tadi.
“Jangan takut, aku gak gigit kok! Hahaha” katanya dengan nada meledek.
Aku tersenyum “Hehehe bisa aja, kamu siapa sih? Kok tadi berani banget sama kak Alexandra ngomong kasar kaya gitu?” Tanyaku penasaran.
“Kenalin aku Ricko, aku anak dari pemilik sekolah ini, iya aku cuma mau kasi pelajaran aja buat cewek kasar itu, biar gak seenaknya ngelakuin hal yang salah ke semua murid-murid disini. Kita di sekolah kan untuk menambah ilmu pengetahuan dan mengembangkan kreativitas siswa bangsa Indonesia, bukannya tertekan batin karena hal bodoh kaya gitu.” Jelasnya.
Aku kagum banget sama kata-kata dan sikap Ricko! Sumpah deh aku kagum banget!
“Perfect!” kataku.
“Hah? Apanya yang Perfect?” Tanya Ricko.
“Aaa? Emmm… Gak ada kok, itu omongan kamu yang Perfect hehe..” jawabku asal.
Ricko tersenyum kepadaku.


*Keesokan harinya*
Saat bel berbunyi, Bu Siska mengajak murid cowok masuk ke kelas 3, aku melihatnya dari jendela kelas tapi sepertinya aku kenal sama cowok itu, hhfftt… mungkin itu hanya perasaanku saja.
Saat aku berjalan sendirian ke kantin, tanganku ditarik dengan entah siapa aku gak tau, tapi setelah aku noleh ke belakang. Ternyata itu.. Ricko!! Aku masih gak percaya Ricko sekolah disini! Astga Tuhan! Aku gak mimpi kan?! Aku mencubit pipiku dengan sangat keras.. “Aww! Aduh sakit” gerutuku sendiri. Ricko menertawakanku dan memegang pipiku, “Abisan sih kamu konyol banget, ngapain coba cubit-cubit pipi sendiri” katanya sambil tersenyum kepadaku.
Astga!! Pipiku dipegang sama Ricko! Cowok Perfect yang aku impi-impikan, kalau kak Mario? Gak ahh.. aku mau sama cowok yang kaya Ricko aja. Aku tersenyum kegirangan sambil bengong sendiri.
Ricko mengagetkanku, “Hey! Udah yuk ke kantin” ajaknya
Aku terkejut, “Hehe iyaya, yuk” jawabku.
Seharian di sekolah aku bahagia banget semenjak ada Ricko, semua cewek-cewek pada ngiri sama aku. Secara gitu Ricko kan anak dari pemilik sekolahku. Selama ada Ricko bersekolah di sekolahku, kak Mario dan kak Alexandra gak pernah lagi ngericuh.
#Saat bel pulang sekolah..
“Sa, pulang bareng yuk!” ajak Ricko.
“Maaf ko, bukannya gak mau, tapi aku bawa motor. Kapan-kapan kita pulang bareng ya? Aku janji!” kataku.
“Yahh, saying banget dong, padahal aku mau traktir kamu es krim. Yaudahdeh janji ya kapan-kapan kita pulang bareng” jawab Ricko sambil tersenyum.
I’m promise” kataku. Lalu aku pergi mengendarai mototrku.
Ricko yang pulang mengendarai mobilnya di cegat oleh geng-nya kak Mario. Dipukulin abis-abisan sampai babak belur. Perkelahian itu terhenti karena tiba-tiba polisi lewat di jalan sepi tersebut. Akhirnya Ricko dibawa ke Rumah Sakit terdekat. Lalu dari Ruang UGD dipindah ke Ruang rawat inap. Berita ini tersebar saat pagi-pagi aku membaca mading yang di geromboli banyak siswa/siswi. Ditambah pelakunya di skors selama 1minggu. Aku cemas, aku khawatir akan terjadi apa-apa kepada Ricko. Sepulang sekolah aku mengendarai motor dengan sangat cepat menuju Rumah Sakit tempat Ricko di rawat.
Aku masuk ke kamar Ricko dan melihatnya tertidur pulas dengan luka perban di jidat dan tangan. Lalu memar di pipi kanannya. Aku menangis di sampingnya, menatapnya dengan harapan Ricko cepat membuka matanya dan membuat ku bahagia seperti di sekolah lagi.
Tiba-tiba seorang ibu-ibu yang cantik menghampiriku. Beliau memegang pundakku.
Aku menoleh ke hadapannya dan terkejut, dengan cepat aku mengusap air mataku dan bangkit dari kursi.
“Maaf tante, aku Cuma mau jenguk Ricko, tapi kalau keberadaanku menggangu, aku akan segera pulang.” Kataku.
Beliau tersenyum kepadaku, “Kamu yang namanya Sasa ya? Ricko selalu menyebut namamu di tidurnya. Masa keberadaan kamu disini mengganggu? Gak sama sekali kok. Silahkan, kapanpun kamu mau ke sini, pintu selalu terbuka buat kamu, lagipula dengan adanya kamu Ricko sembuh dan selalu bahagia. Terima kasih ya nak Sasa” jelas beliau. Aku jadi bangga banget, keberadaabku aja udah di dukung banget sama mamanya Ricko apalagi kalau aku sama Ricko jadian… Huusstt! Ngawur aja nih khayalanku.
“Makasi sebelumnya tante, soalnya udah nerima keberadaanku disini. Aku janji, bakal buat Ricko sehat lagi dan bahagia lagi kaya kemarin-kemarin” jawabku. Beliau tersenyum lagi padaku. “Yauhsah, tante tinggal dulu ya” kata beliau. Aku mengangguk.
Selama Ricko dirawat disana aku menungguinya setiap pulang sekolah dan malam hari. Sekarang malah aku udah akrab sama oarng tuanya Ricko. Ternyata mereka semua baik banget sama aku. Pantesan aja Ricko baik banget sama aku dan semua orang, kecuali orang ricuh kaya kak Mario dan kak Alexandra.
Hari terakhir saat Ricko dirawat disana, suasananya agak berbeda, karena saat siang aku datang, mamanya Ricko memberikan aku seikat bunga mawar merah yang masih sangat segar dan wangi. Aku tersenyum dan berterima kasih pada mamanya dan aku disuruh masuk tanpa beliau mengikutiku masuk ke dalam juga, pad saat aku Tanya kenapa beliau gak ikut masuk. Kata beliau, gak bisa menemani Ricko hari ini sampai Ricko tiba di rumah, karena harus pergi keluar kota ada urusan pekerjaan.
Aku masuk kamar dan Ricko ternyata sedang tidur. Aku duduk di sampingnya, sambil berbicara sendiri..
“Heyy pria gagah! Makasi ya bunganya, cantiiikkk banget, aku suka banget sama bunga mawar. Hari ini kamu harus semangat soalnya bentar lagi kamu boleh pulang lho, terus bisa seru-seruan lagi. Aku kangen banget di gangguin kamu lagi, rasanya kalau gak ada kamu itu aku gak semangat ngapa-ngapain. I MISS YOU!!
Tiba-tiba Ricko membuka matanya dan memegang tanganku.. “Mau gak kamu jadi pacarku?” tanyanya sambil menatapku tajam. Aku kaget ternyata Ricko dari tadi gak tidur tapi dengerin curhatan aku. Sebell!!
“Iya aku mau..” aku menjawabnya lalu tersenyum padanya.
Begitu juga Ricko tersenyum sambil memegang tanganku erat.
Yaahhh.. aku berharap Ricko adalah Pacar Pertamaku dan Pacar Teakhirku..
Karena dia aku bahagia dan karena dia aku tau apa artinya ‘Cinta’.



                                                                                                                                    By : Yap